Dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, Kyai Guru kemudian meminta masyarakat sekitar untuk membawa makanan semampunya. Makanan itu nantinya akan dibagi-bagikan kepada sesama. Hal itulah yang dilakukan Kyai Guru dalam mempererat tali persaudaraan di antara warga Kaliwungu. Hingga kini tradisi itu masih dilestarikan dan akhirnya dikenal dengan Warga Kaliwungu mempunyai tradisi yang telah mereka pakai sejak dahulu yaitu “Wewehan”. Wewehan atau bisa diartikan tukar menukar makanan adalah tradisi yang selalu dilakukan masyarakat Kaliwungu saat datangnya bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabbiul Awwal yang jatuh pada tanggal 29 Oktober 2020 lalu. Kegiatan Wewehan ini dilakukan Soloposcom, KENDAL — Dalam tradisi weh-wehan (Bahasa Jawa: saling memberi) yang dirayakan masyarakat Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah saat memperingati perayaan Maulid Nabi hidangan wajib, yaitu ketupat sumpil. Dilansir dari Detikcom,Jumat (22/10/2021), ketupat sumpil adalah olahan beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang atau daun bambu dan disantap dengan parutan Patung penggambaran Sabdapalon di Candi Ceto. Sabdapalon atau Sabdo Palon adalah sosok legendaris tanah Jawa di Gunung Tidar area Jawa Tengah yang beragama Hindu/Buddha terakhir yang dekat dengan raja Majapahit kala itu. Ia terkenal karena pertarungannya dengan Syekh Subakhir selama 40 hari 40 malam berakhir imbang yang akhirnya membuat Yaitu nama salah satu dari kesatria utama di pesisir utara Jawa, yaitu Kalitangi (di Gresik, Jawa Timur), Kaliwungu (di Kendal, Jawa Tengah), dan Kalijaga (di Cirebon, Jawa Barat) yang ketiga-tiganya memiliki makna ‘Dewi Kali’ (Sang Bumi). 2. Syekh Malaya. Nama Sunan Kalijaga selain Raden Said juga disebut Syekh Malaya. nama Kecamatan : KALIWUNGU nama Kabupaten : SEMARANG nama Provinsi : Jawa Tengah Jarak ke Ibu Kota Kecamatan : 3,2 km Jarak ke Ibu Kota Kabupaten : 54,8 km Batas wilayah desa Utara: Kec. Susukan Timur: Kab. Boyolali Selatan: Dusun Kaliwungu dan Dusun Jetis Barat: Kab. Boyolali dan Kec. Susukan . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. sumber Alkisah, Sunan Katong dari Demak melakukan perjalanan ke Tanah Perdikan Prawoto. Beliau diutus oleh Wali Songo untuk menyadarkan Empu Pakuwaja yang merupakan murid dari Syeh Siti Jenar. Dalam perjalanannya beliau ditemani oleh tiga santrinya yaitu Wali Jaka, Ki Tekuk Penjalin, dan Kyai Gembyang. Sesampainya di tempat tujuan, beliau mendirikan sebuah Padhepokan di tepian Kali Sarean. Beliau adalah sosok ulama yang berilmu tinggi, berbudi luhur dan disegani. Tak perlu waktu lama bagi beliau untuk mendapatkan banyak santri. Berbondong-bondong orang datang ke padhepokan untuk belajar ilmu agama. *** Empu Pakuwaja adalah seorang bangsawan trah Majapahit. Dia seorang yang gagah berani, berwatak keras dan teguh pendirian. Dia mempunyai 2 orang putri yang bernama Surati dan Raminten. Padhepokannya berada di daerah Getas. Dia juga mempunyai murid kesayangan, yaitu Jaka Tuwuk dan Pilang. Ketika Sunan Katong menemuinya dan berusaha mengajaknya kembali ke dalam ajaran Islam yang sejati, Empu Pakuwaja menolak. Dia justru menantang Sunan Katong untuk bertanding adu kekuatan. Sunan Katong meladeni tantangan Empu Pakuwaja. Maka bertandinglah kedua orang tersebut. Mereka mengeluarkan ilmu olah bathin. Akhirnya Sunan Katong berhasil melukai Empu Pakuwaja. Dalam keadaan terluka Empu Pakuwaja berlari dan mencoba bersembunyi dari kejaran Sunan Katong. Dalam pelariannya Empu Pakuwaja merasa haus yang teramat. Ketika sampai di depan sebuah rumah, Empu Pakuwaja segera memasukinya. Rumah itu sepi ditinggal penghuninya ke sawah. Empu Pakuwaja memasuki rumah tersebut. Di atas meja dia melihat sebuah kendi berisi air nira yang akan dimasak menjadi gula. Karena rasa haus yang tak tertahan, diapun segera meminum air tersebut dan menghabiskannya. Karena kekenyangan minum air tersebut, akhirnya Empu Pakuwaja tertidur. Tak lama kemudian dia terbangun karena mendengar suara pertengkaran dua orang yang ternyata adalah suami istri yangmempunyai rumah itu. Mereka adalah Pak Singo dan Mbok Singo yang bertengkar karena air nira yang akan dibuat menjadi gula habis. Mereka tidak tahu bahwa Empu Pakuwajalah yang telah menghabiskan air tersebut. Karena merasa terganggu dengan keributan tersebut, tanpa banyak bicara Empu Pakuwaja membunuh kedua suami istri tersebut. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Singopadu padu = bertengkar. Sunan Katong terus mengejar di belakang Empu Pakuwaja. Ketika dia merasa Sunan Katong berada tak jauh darinya, maka Empu Pakuwaja bersembunyi di sebuah pohon Kendal yang berlubang. Ternyata Sunan Katong mengetahui tempat persembunyian Empu Pakuwaja tersebut. Akhirnya Sunan Katong berhasil menangkap Empu Pakuwaja. Empu Pakuwaja kemudian menyerah dan mengakui kesaktian dan ketinggian ilmu Sunan Katong. Diapun bersedia menjadi pengikut Sunan Katong, bahkan dia menjadi murid kesayangan. Tempat menyerahnya Empu Pakuwaja itu di kemudian hari dinamakan Kendal. Selain nama pohon, Kendal juga berarti penerang, Sunan Katong berhasil memberikan penerangan kepada Empu Pakuwaja dan membawanya kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. *** Pada suatu hari, Empu Pakuwaja marah kepada putrinya, Raminten. Raminten mencintai Jaka Tuwuk, padahal Empu Pakuwaja sudah menjodohkan Jaka Tuwuk pada Surati. Ternyata Jaka Tuwuk juga mencintai Raminten, mereka saling mencintai. Empu Pakuwaja yang mengetahui hal tersebut sangat marah. Lalu dia mencari Raminten dengan maksud menghajarnya. Raminten yang paham akan watak keras ayahnya, segera melarikan diri. Dia mencari perlindungan, dan dia merasa orang yang bisa melindunginya hanyalah Sunan Katong. Karenanya diapun menghadap Sunan Katong dan meminta bantuan. Empu Pakuwaja yang gelap mata dan mengejar Raminten sangat marah mendengar ada orang yang melindungi putrinya. Diapun menghunus Keris Pusakanya dan segera menghujamkan ke dada orang yang melindungi putrinya. Ketika keris sudah menancap, Empu Pakuwaja baru menyadari bahwa orang yang ditusuknya adalah gurunya sendiri. Empu Pakuwaja jatuh tersungkur dan meminta maaf bersujud di hadapan sang guru. Sunan Katong mencabut keris dari dadanya dan menancapkan keris tersebut kepada Empu Pakuwaja. Keduanya gugur sampyuh. Dari luka Sunan Katong mengalir darah berwarna biru, sedangkan dari luka Empu Pakuwaja mengalir darah berwarna merah. Kedua aliran darah itu menyatu di Kali Sarean, membuat warna air sungai berubah menjadi ungu. Demikianlah, daerah di mana kedua tokoh itu gugur sampyuh dan darahnya menyatu kemudian dikenal dengan nama “KALIWUNGU” sungai yang airnya berwarna ungu. Kota kaliwungu kini terkenal sebagai kota santri. Para santrinya berasal dari daerah Kaliwungu dan sekitarnya. Makam Sunan Katong dan Empu Pakuwaja yang berada di bukit Astana Kuntul Melayang selalu ramai dikunjungi peziarah ketika perayaan Syawalan. Penulis Dwi Ilyas 145 Lihat Puisi Selengkapnya LEGENDA KALIWUNGUKonon menurut empu cerita, nama kaliwungu dilatarbelakangi oleh kronik peperangan antara sultan Agung melawan VOC di Batavia. Ada akal bulus dari tentara VOC, yaitu untuk memukul mundur bala tentara Sultan Agung, bukanlah mesiu melainkan kotoran manusialah yang menjadi pelurunya. Ihwal lahan pikiran ini mencuat kedepan karena karena mereka begitu tahu bahwa kaum sabilillah ini lebih takut kepada batang najis ketimbang nyawa yang harus berpindah ke surga. Dan nyatanya memang begitulah adanya. Keadaan ini menjadikan tokoh sakti, Mandururejo kecewa hati. Muncul di benaknya untuk bisa menggantikan bahkan merbut kekuasan Sultan Agung . Issu pun muncul di sana sini , dan Sutan mendengarnya. “Musuh dalam selimut jadinya, jika sang mandururejo tidak di bunuhnya”, begitu angan Sultan Agung. Maka berkumandanglah maklumat Sultan, “wahai siapa-siapa yang bisa mengakhiri nyawanya”. Dari sini agaknya banyak orang menjadi nyinyir lantaran paham betul bahwa Mandururejo memang siapa pula orangnya yang mau menyambung nyawanya secara sia-sia. Pangeran Gribik terkesiap darahnya, mendengar tawanan itu. Dengan kesaktiannya, dicarilah Mandururejo. Maka sebagaimana layaknya kesatria, keduanya beradu dalam medan laga. Dan akhirnya……….Mandururejo terbenam, tidur panjang di tangannya. Mayat Mandururejo digotong pulang kearah pesan Sultan Agung yaitu ke tanah Pratowo. Ditengah perjalanan yang melelahkan dan waktu salat sudah tiba , Pangeran Gribik salat dan beristirahat. Ia pun meletakkan jenazah Mandururejo di pinggir sungai. Ketika Pangeran Gribik selesai membersihkan badan dan berwudhu, dilihatnya jenazah Mandururejo wungutangi artinya “bangun dalam bahasa jawa. Itulah Khasanah ceritanya. Asal-usule jeneng KuthaKaliwungu iku miturut cerita turun temurun saka getihe Sunan Katong lan Pangeran Pakuwojo kang blaber ana ing kali lan banyu kali mau wernane malih wungu. Ceritane Sunan katong iku petinggi ana ing sawijining kerajaan saka negeri cina, teka ana ing tlatah kaliwungu arep nyebarake agama islam ing Kaliwungu. Dene Pangeran Pakuwojo iku uga mantan petinggi Kadipaten bawah kerajaan majapahit kanggo tlatah Kendal/Kaliwungu ing wektu kuwi. Ana ing sawijining dina antarane Sunan Katong lan Pangeran Pakuwojo ana kesalah-pahaman. Pangeran Pakuwojo nesu ora karu-karuan marang anak wadone kang ora gelem miturit apa karepe Pangeran Pakuwojo. Banjur anake Pangeran Pakuwojo mau lunga saka omah lan njaluk perlindungan karo Sunan Katong. Kanepsone Pangeran Pakuwojo saya ndodro amarga ngerti yen anak ana sing melindungi yaiki Sunan Katong. Miturut Pangeran Pakuwojo Manawa wis wani mlindungi anake berarti nantang deweke. Senjata kerise Pangeran Pakuwojo wis lolos saka rangkane lan kanthi kanepson kang makantar-kantar langsung nancepake keris mau ana ing awake pawongan kang nglindungi anake wadon mau, yo ora liyo yaiku Sunan Katong. Sunan katong iku sejatine gurune Pangeran Pakuwojo, berarti Pangeran Pakuwojo mateni gurune dewe. Sakwise sadar lan deleng Manawa kang dipateni iku ora liyo yo gurune dewe, sak nalika awake Pangeran Pakuwojo awake lemes. Sak nalika iku Pangeran Pakuwojo nyuwun pangapura marang guruneiku, lan marani gurune iku mau terus sujud ana ing samparane utawa sikile Sunan Katong. Kanthi sisa tenaga kang isih Sunan Katong Sunan Katong lan Pangeran Pakuwojo mati sampyuh. Sanajan Pangeran Pakuwojo iku muride Sunan Katong ananging Pangeran Pakuwojo iku wis nalingsir saka bebener amarga deweke wis melu lan nyinau ilmu hitam. Dadi rong pawongan kang beda aliran iku mati bareng yaiku aliran putih lan aliran hitam. Getih kang metu saka awake Sunan katong wernane putih lan getih kang metu saka Pangeran pakuwojo wernane abang semu ireng amarga deweke wis nyinau ilmu hitam utawa ngilmu ireng. Getihe Sunun Katong lan Pangeran Pakuwojo mau nyampur dadi siji yaiku getih putih campur karo getih sing wernane abang semu ireng. Getih mau mblaber ana ing sawijining kali sing wernane malih dadi wungu. Ana ing akhire zaman panggonan iku diarani Kaliwungu saka tembung “kali” yaiku panggonan kanggo perang antarane Sunan Katong karo pangeran Pakuwojo ana ing sacedake sawijining kali. Tembung “Wungu” yaiku getih kang mbleber ana ing sawijining kali yaiku getihe Sunan Katong kang wernane putih lan getihe Pangeran Pakuwojo kang wernane abang semu ireng kang campur dadi siji ndadekake kali mau wernane dadi wungu. Iku mau asal-usule salah sijine tlatah ana ing kabupaten Kendal yaiku Kutha Kaliwungu. Kaliwungu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Semarang, tepatnya di sebelah barat Kota Semarang, Indonesia. Kaliwungu terkenal dengan sebutan kota santri dikarenakan di kecamatan tersebut terdapat puluhan pondok pesantren. Pemberian nama Kaliwungu diambil dari peristiwa seorang guru Sunan Katong dan muridnya Pakuwojo yang berkelahi di dekat sungai karena perbedaan prinsip. Dari pertengkaran itu terjadi pertumpahan darah yang menurut cerita, Sunan Katong berdarah biru dan Pakuwojo berdarah merah, keduanya wafat dalam perkelahian itu dan darahnya mengalir di sungai sehingga berubah menjadi ungu. Sampai saat ini belum ada ketetapan resmi mengenai hari jadi kabupaten Kendal dan Kaliwungu. Pemerintah daerah tingkat II Kendal dahulu pernah memutuskan hanya mengenai symbol kota kabupaten Kendal yaitu kendil wesi, dalam hal ini ada riwayatnya tersendiri. Sekitar tahun 1977 pernah membentuk team tetapi tugasnya khusus hanya untuk menggali sejarah perjoangan rakyat daerah kabupaten Kendal melawan penjajah Belanda. Penulis sebagai sebagai rakyat daerah Kendal dan dilahirkan di Kendal sudah lama mencoba mengamati dan menyelidiki sejarah lahirnya kota kabupaten kaliwungu yang kemudian di pindah ke Kendal. Hari jadi kota kaliwungu yang timbul pada kira-kira 380 tahun yang lampau dan kota Kendal pada tahun 1813 H. agak sulit diperolehnya data-data historis atau data-data yang masuk akal. Beberapa informasi dan cerita cerita rakyat banyak yang meragukan, meskipun demikian penulis tiada jalan meneruskan pengamatannya dengan mengumpulkan data data sejarah dan informasi informasi yang dianggap wajar, kemudian tersusun sebagai berikut 1. SULTAN DEMAK KE II Setelah sultan Demak ke I Raden Patah mangkat, digantikan putera sulungnya bernama pangeran Surya atau adipati Yunus Jepara atau disebut juga pangeran Sabrang Lor. 2. KI PANDANARANG I Setelah Sultan Demak II Pati Yunus mangkat, puteranya yang tertua, pangeran Made Pandan tidak bersedia menggantikan tahta kesultanan Demak. Di pulau Tirang inilah beliau sebagai mubaligh mulai menyebarkan agama Islam terhadap penduduk yang masih memeluk agama Hindu/Budha, di samping mengajarkan pula bercocok taman. Karena ketekunannya Pangeran Made Pandan dapat menundukkan mereka dan akhirnya masuk Islam. Di pulau Tirang terdapat tanaman pandan tetapi jarang arang-arang-jawa, akhirnya di tempat tersebut disebut pandanarang, adapun pangeran Made Pandan disebut Ki Pandanarang. I. Pangeran Made Pandan kawin dengan Sejanila, menurut sementara sejarah adalah putera Pangeran Panduruan di Sumenep keturunan Raden Patah. Ki Pandanarang, sekarang disebut Pragota atau Bregoto; makam Nyi Sejanila juga berada di Bregoto. 3. JUMENENGAN BUPATI SEMARANG KE –I Di sekitar PragotaBregoto terdapat tanaman asam tetapi jarang-jarang arang-arang; akhirnya wilayah ini di sebut semarang, asal dari kata-kata Asem-arang, dan disini sudah mulai banyak penduduknya. Sunan Kalijogo Raden Sahid seorang wali yang terkenal namanya diantara Sembilan Wali dari Demak berkehendak mengangkat putra sulung Ki Pndanarang I Made Pandan yang bernama pangeran kasepuhan untuk menjabat bupati di Semarang; maksud ini direstui oleh Sultan Pajang Hadiwijoyo, terlaksana pangeran kasepuhan diangkat menjadi bupati di semarang yang pertama dengan gelar Ki Pandanarang II. Bupati Semarang ke I ini wataknya kikir dan silau akan harta, akan tetapi Sunan Kalijaga dapat meramalkan bahwa di kemudian hari Ki Pandanarang II dapat menjadi wali sebagai ganti Syeh Siti Jenar. Dengan tindakan dan cara yang bijaksana sunan Kalijaga dapat menyadarkan Ki Pandanarang II akan wataknya yang tidak baik itu, dan akhirnya beliau menyerahkan diri dan bertaubat. Selanjutnya Sunan Kalijaga beliau diperintahkan supaya meninggalakan kamukten sebagai Bupati; akhirnya beliau bersama keluarganya hijrah dan menetap di Tembayat;disini beliau di tugaskan sebagai mubaligh menyebarkan agama Islam, akhirnya disebut sunan Tembayat. Kira-kira tahun 1563 H. beliau wafat, dimakamkan di gunung jabalkat. Setelah Ki Pandanarang II hijrah, kedudukan Bupati Semarang dig anti adiknya, pangeran Kanoman, dengan gelar Ki Pandanarang III sebagai Bupati Semarang. 4. BATARA KATONG MASUK ISLAM Batara Katong adalah adipati Ponorogo; menurut sementara sejarah/cerita, beliau adalah putera yang ke 24 dari prabu Browijoyo V dari Majapahit Kertobumi, jadi adik raden Patah Sultan Bintoro Demak. Batara Katong memeluk agama Hindu;Batara Katong menerma anjuran dari Raden Patah untuk memeluk Islam, anjuran itu diterima tetapi akan dipenuhi setalah ayahandanya mangkat; setelah ayahanda mangkat, Batara Katong tidak menepati janjinya dan selalu menagguhkan waktunya. Akhirnya Batara Katong menerima Ilham wangsit dari Tuhan dan dapat petunjuk supaya meninggalkan kamukten sebagai adipati dan supaya berguru ke Pulau Tirang, maka berangkatlah Batara Katong menuju kearah yang du tunjukkan menurut wangsit itu, yaitu ke Pulau Tirang, berguru kepada Ki Pandanarang I Made Pandan dan masuk Islam setelah dianggap cukup dalam mempelajari agama Islam. Dalam perjalanannya beliau sampai di suatu sungai Kali, berhenti beristirahat, akhirnya tiduran tepat dibawah pohon yang warnanya ungu wungu; akhirnya di tempat itu di sebut desa kaliwungu, sedang sungainya disebut kali sarean, masih ada hingga sekarang. Jadi itulah asal usul nama desa Kaliwungu. 5. PENYIARAN AGAMA ISLAM DI KALIWUNGU Karena desa kaliwungu dan sekitarnya penduduknya belum memeluk agama Islam, maka Batara Katong mulai mengembangkan agama Islam, beliau bermukim dibukit Penjor. Setelah tugas penyiaran agama Islam Nampak berhasil dan banyak muridnya, maka beliau mendirikan mesjid ditempat yang disebut sawah jati, tempat ini sekarang tidak Nampak bekasnya. Sejak itulah Batara Katong di sebut sunan Katong. Di tengah kota Kaliwungu sekarang ada jalan yang diberi nama Sawah jati ; mungkin nama jalan ini mengambil dari sejarah bahwa distitu dahulunya tempat didirikan masjid yang permata oleh Batara Katong. Setelah Sunan Katong wafat dimakamkan ditempat yang dulu disebut togal sawah, yang dikenal sekarang adalah makam Protowetan termasuk desa Protomulyo; makam tersebut tidak jauh dari bukit Penjor. Di komplek makam ini dimakamkan pula para tokoh Islam, makam tersebut dimuliakan oleh rakyat dan tiap than di ziarahi besar besaran oleh rakyat kaliwungu dan dari lain daerah tiap tiap tanggal 7 syawwal, disbut syawwalan. Mengenai sunan Katong atau Batara Katong dan makamnya yang ada di protowetan kec. Kaliwungu sering timbul pertanyaan dan keraguan, benarkan tokoh Islam yang disebut Sunan Katong itu identitas dengan Batara katong Adipati Ponorogo? Karena Diponegoro terdapat pusara/kubur Batara Katong. Karena menurut catatan atau Memorires van Pangeran Ario Notohamiprojo Ragent van Kendal, halaman 91 menunjukkan pada waktu mudanya Notohamiprojo pernah mengikiti perjalanan dalam rangka peninjauan Prins Frederik Henderik cucuu raja Nederland ke pulau jawa bulan juni 1837, sehingga meninjau kuburnya Batara Katong di ponorogo. Jadi istilah kubur di artikan adalah tempat jenazah di kebumikan. Hanya menurut kepercayaan rakyat di Kaliwungu sangat percaya bahwa pusara Sunan Katong adalah di Protowetan, lepas dari pemikiran apakah Sunan Katong itu identitas dengan Batara Katong atau bukan. 6. KYAI GURU PENERUS PENYIARAN AGAMA ISLAM Setelah sunan Katong wafat, maka datanglah pada tahun 1560 M. di kaliwungu seorang ulama asal mataram bernama Kyai Haji Asy’ari, beliau pernah bermukim di mekkah untuk memperdalam ajaran Islam. Di Kaliwungu beliau menyiarkan agama Islam, jadi beliau adalah seorang yang pertama kali debagai penerus pengembangan Islam setelah Sunan Katong wafat. Kyai Asy’ari dalam penyarannya agama Islam di Kaliwungu mendapat kemajuan, muridnya bertambah banyak, tidak saja dari desa Kaliwungu tetapi juga dari lain desa. Selanjutnya Kyai Asy’ari mendirikan rumah pesantren dan juga sebagai tempat tinggalnya yang tetap; akhirnya Kyai H. Asy’ari di sebut Kyai Guru. Karena bekal ilmu yang di peroleh selama bermukim di mekkah, maka dalam memberikan pelajaran agama Islam juga lebih luas; tidak hanya di bidang ketauhidan saja tetapi juga dibidang lain mengenai syariat agama Islam, sedang masa Sunan katong yang di tanamkan khusus di bidang ketaukhidan/keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai pada keadaan pada masa itu. 7. KYAI GURU PENDIRI MASJID JAMI’ KALIWUNGU Menurut kisah yang di muat dalam brosur Syawalan terbitan 1977 menyebutkan bahwa Kyai Guru adalah pendiri masjid Jami’ di Kaliwungu. Dahulu bentuk masjid itu tentu saja masih sangat sederhana bangunannya. Sekarang sudah mengalami pemugaran lima kali di bawah pimpinan keturunan Kyai Guru. Pemugaran pertama pada tahun 1653 di bawah pimpinan Kyai Haji Mohammad, pada sekitar zamannya Bupati kaliwungu Tmg. Wirosoco atau masa ngabei Metoyudo dan Tmg. Wongsodiprojo. Masjid Al Muttaqin Sumber Wikipedia & Blogcpot

asal usul kaliwungu dalam bahasa jawa